Rabu, 30 Maret 2016

Welcome to the 'real' world!

Halooo kembali lagi bersama si gadis depok!

Kayaknya penulis yang ini lagi sering mampir ke sini. Harap maklum kalau beberapa postingan terakhir personanya sama. Penulis yang ini lagi galau maksimal. Harap dicatat kalau galau di sini bukan berarti tentang lelaki! 
Jadi kangen jaman kuliah s1. Kalau dulu lagi galau, ketemu temen-temen kampus juga jadi sumringah lagi. Huaaaa waar blijft de tijd? Gue kangen lo semuaaaa.

Kali ini penulis mau nulis untuk menyalurkan kekangenan penulis sama masa itu.

Mungkin akan tiba waktunya dalam hidup setiap orang, di mana kita akan benar-benar struggle sendirian. Mungkin sekarang ya lagi momennya. Usia segini emang lagi masanya begitu, ya meis? Kalau kalian merasakan hal itu, setidaknya kalian harus tau, kalian gak sendirian.

Kalau kalian lagi butuh temen dan ngerasa gak bisa lagi ketemu anywhere anytime, padahal kalian lagi pingin banget, gue paham itu pasti sedih banget. Tapi kadang kita cuma bisa mencoba berdamai dengan keadaan dan yakin kalau ini emang lagi masanya. Pasti ada saat di mana sebagian dari pemikiran kita dituntut untuk lebih dewasa. Mimpi kita perlahan pergi dari bayangan, yang harus kita hadapi setiap hari ya realita, yang mungkin gak pernah kita duga sebelumnya.

Semoga hidup kita gak kayak robot yang ga punya keinginan pribadi ya, meis. Kita masih berhak untuk berharap hal-hal yang menyenangkan akan datang, hal-hal yang sesuai keinginan kita, atau bahkan lebih dari itu.

Badan kita boleh mini, tapi hati kita jangan (tsaaaah).

Babay,
Kecup sayang dari depok city.

Rabu, 09 Maret 2016

Makan Enak = Bahagia

Sepertinya penulis sedang keranjingan menulis, mungkin karena stress gak ada ide untuk menulis kalimat di tesis.

Kali ini penulis mau cerita tentang hal tidak penting lagi (tentunya...).

Jadi gini, kalau penulis disuruh menyebutkan dua hal yang membuat penulis bahagia, mungkin penulis akan bilang..."makanan dan... makanan".
Sebenarnya sih dibilang doyan makan juga engga. Tapi penulis bisa happy berkepanjangan kalau sekalinya nemu makanan enak (ya, bahagianya penulis secetek itu).

Lalu apa hubungannya dengan yang akan penulis sampaikan selanjutnya? Tentu tidak ada! Tulisan ini se-random pikiran penulis.

Kemarin penulis baru saja ngumpul bersama dua orang admin grup ini, ditambah dua orang lagi, yaitu ima dan mute (dua orang itu masih sedikit lebih "waras" daripada kami, tapi kami masih menunggu waktu hingga tiba waktunya mereka menjadi "geser" seperti para penulis di blog ini).

Sehari sebelum hari H, penulis di-sms oleh jani, katanya disuruh cek line. Apa daya aplikasi line telah dihapus dari hp penulis, dan kebetulan sedang tidak menggunakan paket internet untuk mengunduh line lagi, dan wifi di rumah belum bayar, dan kalaupun sudah bayar penulis sedang tidak berada di rumah, jadi penulis tidak bisa mengecek line. Akhirnya jani yang mengerti keadaan penulis pun dengan sabar dan lapang dada memberitahukan bahwa saya diajak untuk ke Bogor, mau main ke rumah ima katanya. Penulis pun berpikir untuk mengiyakan meskipun pas lihat dompet cuma ada ktp sama bon indomar*t (semenjak meneruskan kuliah, penulis makin kere lah pokoknya, mana duitnya masih aja abis buat beli buku, fotokopian, pergi ke tempat penelitian, tapi penulis masih bisa makan saudara-saudara! Alhamdulillah). Penulis berpikir toh mau main ke rumah ima, ga banyak keluar duit paling, oke lah, kayaknya penulis masih bisa idup di Bogor. Akhirnya penulis setuju untuk ikut dan janjian ketemu mereka jam 9 pagi di stasiun Bogor..

Keesokan harinya penulis bangun kesiangan karena malamnya baru pulang jam 2 ketika ayam berkokok melihat malaikat turun. Tenang saudara-saudara, penulis bukan gadis malam, wong kena angin malam dikit langung masuk angin kok. Penulis kebetulan pulang malam karena menghadiri pertemuan keluarga sampai larut malam.

Oke, kembali ke cerita (lah dari tadi bukan cerita emangnya?).

Karena kesiangan, penulis akhirnya mengirim sms ke jani, apakah mereka bersedia menunggu, kalau tidak penulis akan lanjut bobo cantik lagi. Hahaha. Tapi karena lagi-lagi mereka baik hati, penulis pun tetap ikut akhirnya. Dan setelah di perjalanan, penulis baru tau kalo ternyata ima sang empunya Bogor lebih telat daripada penulis. Hyaaaaat!

Pendek kata, kami sudah berkumpul di stasiun Bogor sekitar jam 10 pagi. Lalu berangkat lah kami ke rumah ima. Sesampai di rumah ima, kami menemukan keponakan ima, sebut saja vio, sedang tergeletak tak berdaya karena diserang dinosaurus. Kami yang panik pun langsung siap menghajar dinosaurus tersebut satu per satu. Tapi ternyata dinosaurus yang berada di dekat vio banyak sekali, kami tidak tahu yang mana yang sudah melukai vio. Karena takut salah hajar, akhirnya kami (terutama saya dan jani) meninggalkan vio seorang diri dan menuju dapur ima untuk makan masakan mama ima. Kebetulan penulis memang belum makan dari rumah. (Note: tolong bedakang mana fiktif mana fakta, kalau gak tau bedanya bisa hubungi penulis langsung)

Setelah makan, penulis goler-goler di rumah ima bersama yang lain. Lalu karena kami bingung mau ngapain lagi, kami memutuskan untuk cemal-cemil di luar (yuhuu makan lagi). Penulis sempat bimbang dan ragu karena lagi-lagi faktor ekonomi menyita pikiran, takut gak bisa bayar makan. Tapi setelah berpikir bahwa di Bogor profesi pengamen sepertinya sangat meyakinkan dan tidak mengenal tempat, maka penulis pun yakin akan ke mana kalo gak punya cukup uang untuk pulang ke rumah.

Awalnya kami berencana akan ngobrol cantik di tempat "nyusu" yang instagramable, tapi ternyata antriannya gak nahan, maka kami pindah ke sebrang tempat tersebut yang antriannya lebih manusiawi. Tapi di sebrang itu bukan tempat "nyusu" melainkan tempat makan besar. Ya gapapa deh yang penting bisa duduk, penulis sudah lanjut usia, pegel pingin selonjoran, eh pas banget tempatnya lesehan.

Kami pun memesan makanan sesuai keinginan. Penulis memesan mie ceker ayam saos padang, soalnya penulis doyan ceker dan kayaknya itu cukup untuk memenuhi hasrat penulis yang masih lapar. Jani pesen mie ceker lada hitam, karena dia pingin makan ceker juga tapi ga seru kalo bumbunya samaan, biar variatif aja jadi beda dikit. Ima, indri, dan mute pesen ifu mie. Sebelum mesen, ima sempet tanya, ifu mie yang kayak apa. Lalu penulis dengan sigapnya bilang, bahwa ifu mie adalah mie kering mentah yang disiram bumbu. Untungnya, ima tidak ilfil dengan penjelasan penulis dan tetap bersikeras untuk memesan ifu mie.

Sambil menunggu makanan datang, kami pun poto-poto. Dasar anak kurang gaul, kami gak tau cara poto yang bagus. Bukannya pamer lagi di tempat makan enak, malah terkesan kayak lagi poto di kosan. Akhirnya indri pun nyeletuk, "Udahan ah capek, udah kebanyakan ganti posisi". Padahal, kami baru poto dengan 2 gaya saja! Susah memang, kami gak bakat jadi anak gaul.

Lalu makanan pun datang. Kami makan dalam diam. Anteng, emang kami diemnya kalo lagi makan doang. Saya yang makan dengan tampang bahagia pun dikomentari oleh jan, "makanannya enak ya?". Dan sayangnya itu betul, manteman. Saya ketauan lagi senyam-senyum di depan makanan enak. Saya semurah itu memang. Makanya kalo lagi bete, dikasih makanan enak juga adem.

Satu per satu selesai makan. Dan... saya masih dengan nikmatnya menggerogoti ceker ayam sampai benar-benar bersih. Dan ceker ayam pun berhasil menyelamatkan hari saya!

Anyway, sebenernya belum selesai ceritanya. Tapi saya pegel. Ntar dah lanjut kapan-kapan ya.

See you babay.

How to survive...

Halooo!

Kirain blog ini sudah berdebu, ternyata masih rajin diberdayakan. Bahkan, postingan terakhir cukup "bergizi", tentang bagaimana cara hidup di Belgia. Gak nyangka bisa rada bener juga isinya.

Untuk yang belum tahu, admin blog ini ada 4 orang, manteman. Jadi, wajar kalau personanya tampak berbeda-beda (tsaaah). Tetapi identitas kami masih dirahasiakan, walaupun foto kami secara nyata sudah tak sengaja terpampang di sini. Begitulah, kami gagal menjadi semacam agen rahasia.

Admin yang ini sudah lama gak mampir, tapi begitu liat admin yang lain masih suka nulis, saya jadi iri pingin nulis juga (anaknya suka iri emang). Tapi bingung mau nulis apa. Yaudah, karena udah ada yang nulis 'How to survive living in Belgium', saya mau nulis tentang....

'How to survive living in Indonesia, usia 24-25 tahun, masih single (gak rela dibilang jomblo), gebetan pun tak punya, sementara teman-teman lain sudah ganti popok anak tiap hari'.

Yak, usia kami dalam rentang segitu, pembaca! Kami sudah (hampir) seperempat abaaaad!!!! Lalu apa yang masih sering kami lakukan?

- Menunggu-nunggu komik Hai Miiko terbaru terbit, dan gak bisa move on dari tokoh Tappei yang ada di dalamnya. Lalu, ketika sudah terbit, kami masih saja terpesona dengan betapa manisnya Tappei memperlakukan Miiko.

- Hunting jam tangan lego dengan tokoh kartun anak-anak macam superman, wonderwomen, dll.

- Siap siaga kalau ada diskon sneakers di waktu tertentu, misal buy 1 get 2 pas tahun baru. Sementara ga pernah excited kalau ada diskon high heels dengan 15 cm menjulang di atas tanah (emang kapan juga pernah aware diskon high heels?).

- Mencoba bikin infused water biar sehat, tapi tetep paling sumringah kalau makan ayam kf*c dan pizza (yang ini dirimu, ndri. Peace, love, and kami padamu selalu).


Yah, itulah kira-kira beberapa hal yang masih kami lakukan, di samping masih banyak hal absurd lainnya. Dan kami (mencoba) bahagia!!!! Huahahaha.

Sebetulnya sih, liat satu-persatu temen ngasih info mau nikah, bikin mupeng juga (apa gue doang yang begitu?). Tapi terus (selanjutnya pake persona diri sendiri aja ya) saya sadar kalau alasan menikah hanya karena umur, ngeri juga. Lagipula cari suami yang masih mau menemani istrinya hunting komik dan sneakers mungkin agak susah. Jadi yasudahlah, saya percaya semua akan datang pada waktunya. Macam kucing saya yang selalu datang kalau ada lapernya. Pokoknya, menikah itu jangan hanya karena alasan usia. Menikah itu karena Allah.

Yuk, kita ngaji!



Senin, 11 Mei 2015

How to Survive Living in Belgium


Hai semuanya. Kali ini penulis akan sharing pengalaman penulis tinggal di Gent, Belgia selama 3 minggu sebagai seorang mahasiswa kere dari Indonesia. Untuk pembaca yang mau kuliah ke luar negeri atau sekedar liburan ke Belgia, semoga tulisan ini bisa menjadi referensi.

Sebelum bahas lebih lanjut, coba kita mengenal kota Gent, tempat penulis tinggal, secara lebih dekat. Gent atau Ghent adalah kota di Belgia yang sering dibandingin sama Venice. Secara geografis, Gent lebih dekat ke Belanda, oleh karena itu orang Gent berbicara Bahasa Belanda. Seperti yang saya pelajari di bangku kuliah, Belgia itu negara yang unik. Orang Belgia berbicara dengan tiga bahasa, tergantung letak geografisnya. Kalo kota yang berbatasan dan dekat ke Belanda, maka orang di kota tersebut berbicara Bahasa Belanda. Bahasa Belandanya pula agak berbeda dengan Bahasanya orang Belanda beneran. Kalo orang Belgia memproduksi fonem “g” lebih halus ketimbang orang Belanda yang kedengeran kaya sedang berusaha ngeluarin lendir dari tenggorokan. Kedua bahasa lain yang dikuasai orang Belgia yaitu Bahasa Jerman dan Perancis. Lagi-lagi tergantung letaknya lebih deket ke mana, Jerman atau Perancis. Konon katanya kota yang berbahasa Perancis macam Brussels atau sering disebut juga Bruxelles pada sombong-sombong. Bener atau engganya nanti penulis share lain waktu, soalnya penulis juga pernah berkunjung ke Brussels.

Karena beda benua, jadi perbedaan antara Jakarta dan Gent itu jauuh banget. Ga usah bicara tentang budaya, bahasa atau masyarakatnya dulu deh. Di Gent bahkan langit dan rumputnya beda sama Jakarta. Langitnya lebih biru dan rumputnya lebih hijau. Kalo di Jakarta penulis bingung sama peribahasa “rumput tetangga selalu lebih hijau” karena belum pernah ngeliat rumput hijau segar di Jakarta, bahkan rumput GBK warnanya butek. Di Gent semua rumput, walaupun rumput liar di halaman, warnanya hijau macam rumput di lapangan bola Liga Inggris. Pasti sapi Gent juga lebih bahagia karena rumputnya lebih enak buat dimakan.

Kembali ke tema..

Bagaimana tinggal di negeri biru sebagai orang asia tenggara?

Supaya hemat bisa beli makanan di frituur (kedai gorengan), toko kebab, pizzeria (yang ini bisa patungan sama temen), atau beli bahan makanan di mini market.

Waktu penulis ke Gent itu pas musim panas. Panasnya kira-kira sama kaya di Bandung, eh itu ga panas ya, malah sejuk. Ya pokoknya walaupun mataharinya bersinar cerah belum tentu udara di Gent panas. Ditambah lagi sinar matahari jarang muncul di Gent, walaupun musim panas juga. Dan anginnya itu loh, sering banget berhembus dan  kaya masih nyisa angin musim semi, dingiiin.

Nah klo udara dingin biasanya hasrat untuk mengudap menjadi lebih besar. Makananpun juga menjadi faktor penting untuk hidup di Gent. Mungkin beberapa hari pertama kita sangat excited mengeksplor makanan-makanan khas Belgia, icip sana-sini, nyobain semua kombinasi french fries dengan sausnya, dll. Untuk yang belum tau, french fries di Gent berbeda dengan yang suka kita temui di restoran fast food Amerika. Kenapa? Kebanyakan orang makan french fries pake mayonnaise. Kebayang ga sih udah makan gorengan terus ditambah lemak dari mayo juga. Tapi selain itu Gent juga punya banyak saus pendamping french fries, macam  ketchup, curry sauce, curry ketchup (mildly spiced mix of the former), hot sauce, relish, mustard, bearnaise sauce, tartar sauce, chili, tzatziki, feta cheese, garlic sauce, fry sauce, butter, sour cream, ranch dressing, barbecue sauce, gravy, honey, aioli, brown sauce, ketchup, lemon juice, piccalilli, pickled cucumber, pickled gherkins, pickled onions or pickled eggs. Kenapa saya bisa tau jenis saus sebanyak itu? Karena saya copy dari wikipedia, haha. Saus yang baru pernah saya cobain cuma mayo, ketchup, curry ketchup, dan yang paling enak joppiesauce.

Orang Belanda dan Belgia mirip-mirip loh sama orang Indonesia, sama-sama suka gorengan. Selain french fries, di sana juga ada kroket, bitterballen, dan sebangsanya. Makan gorengan tiap hari pasti eneg, walaupun lumayan harganya murah, dengan 2 euro udah bisa makan. Tapi lama kelamaan, dna orang asia ga bisa boong. Seminggu di Gent udah sakau indomie sama nasi. Beruntung saya udah nyetok indomie dari Jakarta. Untuk nasi, saya beli beras Thailand di mini market terdekat, bisa di delhaize atau carefour express, mudah ditemukan dan ga perlu repot-repot cari di minimarket asia. Masaknya juga mudah, cukup masak air sampai mendidih, terus masukkin berasnya berserta plastik pembungkusnya. Oia berasnya itu dalam satu kemasan terdiri dari beberapa  packages.   

Macam di bawah ini. Saya cek di internet harga satuannya €3,13, dan terdiri dari 4 packages. Bisa buat makan dua hari kalo pake porsi saya, lumayan kan. Ngolahnya juga gampang, beli bawang putih, terus bikin nasi goreng deh, atau makan bareng ceplok telor.


Kalo lagi mau bergaya eropa dikit, bisa beli pasta mentah beserta saus pasta di mini market. Ini bahkan lebih murah. Triknya, beli pasta dengan merk yang paling murah, sausnya juga, kalo perlu beli yang mereknya sama kaya brand mini market tempat kita belanja. Selain itu frozen food juga boleh dicoba. Frozen pizza yang large itu harganya cuma 2 euro sodara-sodara, bisa buat makan seharian (kalo saya). Untuk asupan buahnya juga bisa didapat dengan harga murah. Caranya? Jangan beli buah yang tempat penanamannya jauh atau lagi ga musim. Jangan coba-coba ngidam salak, durian, duku atau buah tropis lainnya kalo lagi di Eropa. Mahal cuuy. Kalo penulis milih buah kiwi, karena kiwi mahal di Indo, sedangkan di Eropa murah. Udah gitu dijualnya per keranjang kecil lagi, bisa dimakan berhari-hari kalo ditaro kulkas.

Makanan lain yang mahal di Indo tapi murah di Eropa itu salmon. Jangan beli yang fresh, tekan budget dengan beli salmon asap. Walaupun diasap, salmonnya masih seger kok, soalnya yang mateng cuma bagian atas aja, dalemnya masih kenyal, enak banget pokoknya. Pengolahannya juga bisa dimacem-macemin, bisa makan bareng salad, atau dijadiin sandwich. Kalo dijadiin sandwich bisa buat makan bertiga. Tipsnya, jangan beli roti tawar bisa, beli roti baguette, harganya juga ga sampe satu Euro dan masih fresh from the oven. Biar enak dioles gezouten boter atau salted butter.

 Cek harga di http://nl.delhaize.be/en


Gimana caranya menghemat ongkos transport dalam kota?

Gampang, jalan kaki kemana-mana. Sebenernya disini ada tempat penyewaan sepeda, tapi agak mahal, kira-kira  €5 seharian. Ditambah lagi kalo punya badan hobbit macam penulis, dijamin susah buat dapet sepeda yang pas, kecuali sepeda buat anak-anak. Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan tata kota Eropa yang ciamik. Untuk kota kecil macam Gent, ga susah kok untuk jalan keliling kota. Kota-kota di eropa itu tersentralisasi, jadi pusat kehidupan dan wisata ada di pusat kota atau Het Centrum. Bisa liat gambar di bawah, asrama penulis ada di Home Uppsala, Stalhof 47 dan penulis kalo ke Het Centrum jalan kaki, misalnya penulis mau jalan-jalan (secara harafiah) ke kastil peninggalan abad kesepuluh, Gravensteen, penulis tinggal jalan kaki. Penulis juga jalan kaki pas ke Citadelpark dan stasiun di belakang Citadelpark. Dua kata buat jalan kaki, murah, sehat.


Bisa juga beli kartu Lijnkaart atau semacam kartu abonemen yang bisa digunakan untuk bus dan trem. Satu kartu untuk 10 kali perjalanan harganya €14, 50 % lebih murah ketimbang beli tiket. Ada juga Lijnkaart yang sistemnya harian, baik untuk sehari, tiga hari atau lima hari.


Untuk penyewaan sepeda bisa liat di http://www.max-mobiel.be/
Informasi Lijnkaart bisa liat di https://www.delijn.be

Ngehemat mulu, seneng-senengnya kapan?
Kata siapa rekreasi pasti mahal. Di Gent ada berbagai tempat wisata gratis loh.
 1.       Gereja

Gereja bukan cuma tempat buat ibadah. Masih menyusung aliran gothic, membuat arsitektur gereja di Gent terlihat sangat nyeni, indah, misterius dan seram sekaligus. Wisata di gereja keren loh, hitung-hitung wisata religi, kesenangan dapat, pahala juga dapat.

2.    Taman kota
Seperti yang sudah penulis informasikan sebelumnya, rumput di Eropa tuh beda. Karenanya berkunjung ke taman kota itu wajib. Di sana kita bisa duduk-duduk di rumput (jangan guling-guling, kayang ataupun makan beling), ngeliat pemandangan, jogging, piknik, bahkan nontonin orang pacaran. Oia, bisa nambah temen baru juga loh, soalnya taman bisanya dijadiin tempat perkumpulan komunitas tertentu. Waktu penulis masih di Gent, penulis sempet liat komunitas cosplay di taman, emejing.

3.    Foto-foto di depan tempat wisata
Caranya sama aja kaya kalo foto di depan Monas, ga perlu bayar untuk masuk yang penting ada bukti foto dengan ikon kota. Hal serupa juga bisa dilakukan di depan Eiffel Tower Paris, Il Colosseo Roma, Tokyo Tower dan landmarks lainnya.

  4.  Sungai
Pemandangan paling indah sekaligus kebanggaan Gent itu ada di sungainya. Cukup ngopi santai di kafe pinggir sungai sore-sore. Atau sekedar duduk-duduk ketika malam sambil memandangi pantulan rembulan di atas permukaan sungai itu sangat indah. Kalo weekend biasanya banyak anak muda hang out sambil ngebir juga di pinggir sungai. Seru deh.

  5.       Festival
Gent itu kota festival. Tiap tahun ada berbagai festival diselenggarakan di Gent. Ada Gent Jazz Festival tiap bulan Juli, Polé Polé Festivals selama 10 hari di bulan Juli, Gentse Feesten yang sering disamain dengan Oktoberfest di Munich dan La Fallas di Valencia, OdeGand di tiap bulan September, Licht Festival/Light Festival di bulan Januari-Februari, dan Winter Festival di bulan Desember. Tapi harus diperhatikan, tidak semua festival free entry, rajin-rajin liat informasi di internet kalo mau dapet gratisan.





    


Demikian informasi yang bisa penulis share kali ini. Semoga bisa mempermudah kehidupan pembaca di Eropa sehingga bisa menikmati Eropa, khususnya kota Gent secara maksimal. Heel Bedankt J

Selasa, 28 April 2015

Menjadi dewasa

Hai pembaca-pembaca (maksud gue elu ndri dan gue juga, karena bentuk katanya plural) sekalian. Apa kabar? Sudah bertahun tahun penulis ga posting di blog ini. Tapi karena sekarang penulis punya waktu luang, kalo ada hal yang menarik akan penulis share di blog tak terjamah pembaca ini. Oke kali ini penulis mau nyeritain arisan angkatan tanggal 18 April 2015 lalu. Menurut mandat sang pemenang arisan sebelumnya, bocah depok imut namun penderita beser akut, Fina, arisan bulan April harus dilaksanakan di pinggiran kota tempat para mahasiswa mengggantungkan cita-citanya, yaitu Depok.  Sebenarnya penulis juga turut berperan dalam memilih restoran buat arisan, lebih tepatnya ngeloby Fina supaya arisannya di restoran korea, Mu ji Gae karena penulis belom pernah makan di sana. Hahahah. Alasan lain kenapa anak-anak pada mau arisan di Depok karena selain buat nostalgia masa kuliah juga buat liat bekas kebakaran di margocity. Kurang hiburan yah kami, sedih deh.

Anyway, penulis, Indri, dan Fina memutuskan buat datang lebih dulu dari waktu yang ditentukan buat janjian karena pengen window shopping di Detos sekalian beli kado buat nikahan Sisil. Yak sodara-sodara, Anda tidak salah baca. Sisil mau nikah. KAWIN CUUUY. Sebagai teman satu angkatan kami turut bahagia buat pernikahan Sisil sekaligus merasa campur aduk. Mereka yang terlalu cepat dewasa atau kami yang terlalu bocah? Boro-boro nikah, gebetan aja ga punya dan dengan indahnya kami tidak berusaha buat nyari. Super sekali. Pada akhirnya setelah muter-muter matahari Detos, kami tidak menemukan barang yang bagus buat hadiah Sisil dan langsung ke menuju tempat janjian di Margocity.

Baru mau menyusuri lantai dasar, kami berjumpa dengan Chandra dengan bibir merah menyala ala Taylor Swift. Akhirnya kita berempat pergi ke Mu Ji Gae dan langsung pesan makanan, sambil nunggu temen-temen yang lain datang.  Setelah mulai rame, kami semua saling mengabsen satu sama lain, siapa aja yang belum dateng. Dan pada arisan kali ini yang paling banyak ditanyain itu ialah Ima. Berhubung Indri dan Ima sama-sama bekerja sebagai kuli tinta di redaksi yang sama, jadilah Indri bulan-bulanan bagi mereka yang nanyain Ima.

A: “Ndri, Ima kemana? Kok ga dateng?”
Indri : “Ima udah punya pacar”
A: ???

B: “ Ndro, Ima kok ga keliatan? Kemana?”
Indri : “Ima udah punya pacar”

C: “Ndri, Im,,
Indri: “ IMA UDAH PUNYA PACAR”

Entah kenapa semua pertanyaan tentang Ima dijawab dengan jawaban yang sama oleh Indri. Mungkin Indri hanya ingin berbagi kabar gembira dan menjadi juru bicara bagi Ima. Yah, Ima memang termasuk “it girl” di jurusan kami. Parasnya yang cantik, hidung mancung, intelegensi tinggi, berpakaian muslimah, pokoknya gambaran gadis padang solehah se FIB UI deh. Banyak juga kawan-kawan, baik yang seangkatan atau enggak , yang termehek-mehek gara-gara Ima. Walaupun dideketin banyak orang tapi doi ga ngerespon sama sekali. Makanya semua pada amazed pas tau kalo Ima udah punya pacar. Ima punya blog juga loh, semoga dia ga baca tulisan ini.
Sebenarnya Ima ga dateng ke arisan kali itu karena kakaknya lamaran dan akan nikah keesokan harinya, ga ada hubungannya sama pacar sama sekali.


Balik lagi ke arisan, selain agenda utama ngocok arisan, sebenarnya tujuan lain dari pertemuan ini ialah ngerumpi (ngomongin orang-red). Tapi kali ini karena Sisil mulai membuka jalan untuk status baru, dan kami anggap itu merupakan sebuah langkah yang besar, jadi obrolan kali ini lebih dalam, terutama tentang kehidupan. Ternyata, hampir semua orang pada ga puas sama kehidupannya. Yang kerja pengen kuliah lagi, yang lagi kuliah pengen kerja, yang kerja swasta pengen jadi pegawai negeri, yang pegawai negeri pengen resign (itu saya). Setelah lulus kuliah, kita memang dituntut untuk dewasa. Kadang kita belum siap atau belum tau mau melakukan apa buat masa depan. Pada saat itu pula, kita sadar kalo apa yang kita bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan, kita harus mengubur mimpi kita, kita akan lebih jarang tertawa. Semua orang sepertinya hidup lebih baik dari kita. Welcome to quarter life crisis when the reality hits really hard.

Tapi apapun yang terjadi, kita harus menjalani hidup kita dengan baik. Walaupun kamu merasa menjalani kehidupan tanpa makna, berikanlah makna bagi hidupmu. Saya ingat sebuah kalimat dari penyair Belanda yang berkata ; Dalam kehidupan yang tak bermakna, atau bahkan tidak diketahui apakah kehidupan itu punya makna atau tidak, tersimpan kesedihan yang mendalam.

Bagi mereka yang mempunyai pekerjaan yang membosankan, tidak memberikan pengaruh bagi orang banyak, dan hanya bekerja hanya sekedar karena diterima bekerja, ingatlah “ Your job can not define you you are”. Okelah, kalo punya pekerjaan yang membosankan dan berada di lingkungan yang membosankan, tapi jati dirimu di luar itu. Kalo kalian kesulitan menentukan jati diri, buka kembali catatan-catatan lama, buku harian, status facebook, blog dan media sosial lainnya. Lihat apa yang orang lain katakan tentang kalian, juga reaksi mereka. Kalian akan melihat pribadi kalian yang sesungguhnya.

Saya sendiri memutuskan mau cari kesibukan dan hobi baru setelah selesai kerja jam 4. Mungkin mau mulai les gitar atau ikut yoga. Sebisa mungkin mau memisahkan antara pekerjaan dan karir, serta menjalani keduanya dengan maksimal.

Sekian curhatannya. Terima kasih.




Minggu, 07 Desember 2014

Setahun Pasca Meninggalkan Kampus Kuning...

Hola!

it's been a year since we graduated from college.

Tanggal 30 Agustus 2013 kami melempar toga, menggantung almamater kuning kesayangan. Terjun ke masyarakat mengamalkan dharma terakhir perguruan tinggi, mengaplikasikan ilmu yang telah di dapat.

Serius amat intronya ya hahaha..

Kehidupan sebelum lulus, penulis lupa cerita, Anjany anak betawi sempat ke benua biru dapat beasiswa summer course...bocah cabe rawit ! bahaha *peace..

Meliya Dwi berhasil Cum Laude dengan metode belajar CRAMMING dengan perjuangan berliter-liter kopi dan mata panda *tepok tangan

itu cerita dari dua penghuni blog ini, mereka sekarang  non aktif mendulang eksistensi menulis disini.
Sibuk mengumpulkan segenggam berlian~ ya filosofi hidup memang harus layaknya bulu ketek. Gigih terus hidup, walaupun terhimpit ditambah pula subsidi BBM  naek (tenang aja harga minyak lainnya tetap stabil, semisal minyak telon, kayu putih, dll)

oke, kehidupan kami pasca lulus yaa tetap berusaha menebar jala, (cari jodoh maksudnya karena kalaupun ikut take me out rasanya itu opsi terkahir dan mentok). Jika di 2013 ada tren 'mama minta pulsa' di 2014 ini kami sedikit lebih lega..kami kira akan ada tren 'mama minta cucu atau mama minta mantu'.

Meliya, setelah lulus jadi junior manager di perusahaan retail terbesar asal Jepang. Gimana prosesnya, pingin tau? bisa ketik REG (spasi) Primbon akan langsung dpt SMS dari HP Mely.

Rany Anjany ; Staff IT di perusahaan Jepang, ini dengan motif terselubung ada udang di balik bakwan bercita-cita menggaet pria negeri matahari setelah menyerah cari jodoh via pasar BIPA FIB *ngarang, penulis juga termasuk oknum dengan modus serupa kalau ke pasar BIPA bahaha..


Fina Andriani : lanjut studi yang diimpikan, ambil linguistik bidang yang jadi passion fina selama ini ,sukses aphemetje :)

Indro (nama disamarkan)  : berhubung tanah abang sudah dibenani, akhirnya dia sadar kalau malak itu ga baik dan beralih profesi : seperti Tin-Tin dengan harapan bisa menjelajah ! salam.
ohiya lupa pas penulis masuk sedang heboh-hebohnya pilpres dan suhu politik naik. Setelah pilpres ada dualisme di antara Koalisi Merah-Merah Delima dan Putih-Putih Melati, dengan Koalisi Indonesia Hebat.

apapun yang terjadi...hidup di negeri ini seperti permainan monopoli. Terus melangkah jika tak ingin kalah. Tak perlu mengutuk aturan, karena yang ada hanya faktor keberuntungan. 

sekian dan terima bersih.


















Jumat, 24 Agustus 2012

Vector

Judul saya ambil dari nama anjingnya Ina, postingan ini emang tentang ke rumah cici ina :P
penulis ga bisa posting lagi soalnya modem udah mau ga bernyawa :)
Liburan, cici ina (penyuplai dana ) kelompok kami open house. Kami janjian di stasiun bogor jam10 (lagi-lagi penulis telat, ga heran). Dari stasiun bogor kami nyambung angkot kendaraan paling merakyat buat kami selain kereta, kaum proletar kalo jalan-jalan naek public tranportation hahahah...well,we're not like those anak ghoal.

Sebelumnya penulis akan jelasin biografi singkat ina.Bedakan mana fiktif-mana fakta :
 Ina, umur 20 Tahun, SD di Regina Pacis, sma di Budi Mulya. Anak ketiga dari empat bersaudara. Diduga punya relasi sama Ginanda (tapi ginanda jual mahal banget) entah ini konspirasi atau bukan :P. Rumah ina gede banget, sampe ada Mc.D-nya, ke dapurnya harus pakai mobil golf, punya anjing banyak, papi ina sekarang lagi berusaha balik nama semua aset karena mau lengser hahaha...ssst diem-diem aja!!

Kami sempet nyasar (kemana-mana nyasar mulu,klasik) biasa salah turun angkot, kami jadi dijemput sama ina gara-gara ini. Begitu buka pager, riuh banget sambutannya si Oni (anjingnya ina) dia gong-gong mulu..ia bilang maklum dia ras campuran, suka agak hebring gitu kalo ada orang asing. Penulis baru tau ternyata anjing bisa sensi juga hahaha, maklum dirumah punya ikan mas sama burung perkutut doang (itu juga tinggal kandangnya). Vector yang paling lucu, saya lupa ras apa tapi dia turunan murni, bukan mud-blood atau half-blood (please ini bukan Harry potter).
Satu lagi namanya lupa,pokoknya tiga anjing itu point of interests kami pas di rumah ina. Vector gede banget kayak panda, kerjaannya goler-goler, abis telentang eh ga bisa balik jiahahaha..

Sebenernya rumah ina adalah rumah kedua yang di-Banned..setelah rumah fina,kenapa? karena kami jadi makan mulu disana, mama ina sama mama fina hobby banget kasih makanan.
Mama fina seneng banget ada anak doyan makan, soalnya fina ga hobby makan, jani juga gitu. Kalau Meli dan penulis makan sesuai kebutuhan aja, sedikit-sedikit tapi sering buat jaga kalori (padahal ga bisa  gemuk) soalnya faktor U. Oke, waktu ke rumah fina kami ngemil mulu,mpek-mpek nya bikin khilaf..Tante titip salam manis ya buat empek-empeknya dari saya, kecup mesra buat cuka-nya sekalian :*

Serupa sama rumah fina, di rumah ina, mamanya jago masak, aih...asinan sama es buahnya not to compare..itu resep sendiri, mama ina sekolahnua jurusan masak.. terus udara bogor yang sepoi-sepoi mendukung banget. Disana kami nyanyi, ina main gitar (dia musical bgt, jago main apa aja)
I'm surrounded by extra-ordinary people.

Acara resminya di rumah ina nonton dvd tetep..lagi-lagi absurd, baru nonton satu film pasti langsung diganti film lain, nyetelnya ga sampe 10 menit satu film langsung ganti. Main kartu, ah,,kapan bisa kayak gitu lagi di koridor/kelas kosong main kartu sambil ngopi rame-rame. (kan FIB = Fakultas Ilmu Bermain) kalo anak FE sesial-sialnya lulus jadi menteri ekonomi, kami lulusan FIB sesial-sialnya lulus jadi artis..hahaha plesetan kampus kami kayak gitu :P

Segitu dulu ya, penulis soalnya pulang gak sore-sore amat dari rumah ina, sisa pasukan masih disana...